Find Us OIn Facebook

“Ibu itu keren ya, ponselnya selalu yang terbaru, smartphone. Ke mana-mana juga sering bawa iPad. Pokoknya ngga gaptek, deh,” demikian komentar seseorang atas teman wanitanya.


Gaptek alias gagap teknologi, kerap menjadi julukan bagi mereka yang kurang mengikuti perkembangan teknologi. Namun, apa sesungguhnya definisi dari melek teknologi? Apakah mereka yang selalu memiliki gadget terkini saja sudah cukup mewakili definisi “melek teknologi”?


“Ah, mama payah, ngga beliin aku iPhone. Kan nanti aku malu, dikatain gaptek sama teman-teman.” Rengekan seperti ini kerap jadi senjata ampuh anak pra remaja saat meminta dibelikan gadget canggih ke orang tuanya. Bagi orang tua yang salah kaprah mengartikan kata “gaptek”, akan dengan mudah membelikan anak gadget idamannya. Lalu menganggap masalah sudah selesai.


Padahal, mereka yang asal beli gadget, asal memakai teknologi, tanpa memahami dampaknya, justru masuk dalam kategori gaptek. Setidaknya ini menurut saya. Mengapa?


Seorang anak yang diberi gadget, dengan akses internet begitu tak terbatas, aneka aplikasi penuh godaan, tanpa dibekali pengetahuan tentang bagaimana menggunakannya dengan tepat, akan menjadi korban teknologi itu sendiri. Sebab dia gaptek, dan terlahir dari orang tua gaptek juga. Banyak orang tua yang merasa hebat dan melek teknologi, jika sudah memiliki aneka gadget canggih nan mahal. Mereka juga membelikan gadget-gadget itu ke anak-anaknya, tanpa pandang usia dan kebutuhan.  Kemudian mengaggap semua sudah beres, dan kembali asyik dengan dunianya.

“Anak masa kini kan pintar, sudah bisa langsung belajar teknologi. Anak saya yang masih TK saja sudah langsung jago main Android, lho,” celetukan bangga seorang ayah macam ini sering kita dengar. Ia tak paham bahwa “bermain” teknologi pun ada aturannya. Apalagi buat anak-anak.

Godaan gadget canggih bukan hanya melanda orang dewasa, tapi juga remaja dan anak-anak. Pernah dengar berita tentang seorang remaja asal China yang rela menjual ginjalnya demi memiliki iPad? Atau tentang remaja putri asal Jakarta yang tertipu teman Facebook akibat diiming-imingi BlackBerry? Atau kasus remaja yang mencuri uang orang tua demi bisa punya ponsel canggih? Semua membuat mereka nekad. Hanya karena tak ingin dicap gaptek atau ketinggalan zaman, segala cara dilakukan.

Kembali ke soal definisi gaptek. Jika gaptek diasosiasikan dengan ketinggalan zaman akibat tak punya gadget canggih, alangkah naifnya. Sebab mereka yang punya beragam gadget canggih sekalipun, kerap kali bersikap gagap. Tidak tahu bagaimana mengontrol diri agar tak kecanduan internet, tidak paham bagaimana mencegah gadget-nya terinfeksi virus, tidak bisa membedakan mana aplikasi yang penting atau justru jadi penyebar spam.  

Biasanya mereka akan belajar, namun dalam waktu lama. Setelah beberapa kali jadi korban penipuan, penyusupan spam, jadi target pesan-pesan berisi virus, atau bahkan pembobolan kartu kredit.


Tentu Anda tak ingin menjadi bagian dari orang-orang gaptek macam ini, bukan? Punya segudang gadget canggih, selalu update aplikasi terbaru, namun hanya menjadi target virus, spam, penipuan, pencurian, dan seterusnya. Lebih parah lagi apabila targetnya adalah anak-anak Anda yang masih sangat polos dan apa adanya.

Bagi para pengguna tablet, smartphone, ultrabook, atau apapun gadget canggih lainnya, sudahkah Anda membekali diri dengan wawasan bagaimana menggunakan semua gadget itu dengan tepat? Bukan asal instal aplikasi terbaru, yang ternyata mengandung virus. Atau bukan asal ikut mengklik link yang dikirim melalui DM Twitter, padahal itu membuat Anda terinfeksi Trojan. Atau tidak asal membelikan anak-anak gadget canggih, tanpa memberi bekal cukup soal keamanan dan privasi mereka.

Di artikel berikutnya saya akan lebih banyak membahas soal keamanan dan privasi di dunia maya, yang sangat lekat dengan keseharian kita. Terutama untuk orang tua dan anak-anak yang masih kerap salah mendefinisikan kata “gaptek”.


* Tentang Penulis: Merry Magdalena, pengamat social media, founder Netsains.Net, penulis buku Situs Gaul Gak Cuma buat Ngibul (Gramedia Pustaka Utama), Melindungi Anak dari Seks Bebas (Grasindo), UU ITE, Don’be The Next Victim (Gramedia Pustaka Utama), dan empat buku lain.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama